Saidel Test Untuk Melihat Kebocoran Cornea Pada Mata

Test Seidel 

Pasti banyak yang pernah dengarkan tentang seidel test, yang pasti sering dengar adalah para kesatria dibelakang dokter spesialis mata yang sedang melakukan operasi katarak dengan methode fakoemulsifikasi yaitu perawat asissten fakoemulsifikasi .

Mungkin banyak yang belum tau apa sih seidel test itu dan seperti apa tindakannya dan fungsinya dalam dunia kesehatan mata . Dalam tulisan ini penulis mencoba mengulas dan menceritakan tentang test yang sering didengar oleh para asisten fakoemulsifikasi ini .
Oke para sahabat Ikpami kita mulai ya, dari sejarahnya Test Seidel ini diberi nama berdasarkan sang penemunya yaitu seorang Ophthalmologist atau dokter Mata asal dari Jerman yang bernama Erich Seidel pada tahun antara 1882 hingga 1948 .

Dan penggunaan test Seidel ini dilakukan untuk mengetahui adanya perforasi atau kebocoran okular dari kornea, sklera atau conjungtiva setelah cedera , kadang – kadang bisa juga kebocoran akibat penyakit pada cornea. Awal mula test ini dilakukan dengan cara menempelkan flouresin 10% pada kornea, dengan dilakukan sedikit penekanan pada korna. Apabila terdapat lubang di kornea, maka floresin akan tercecer oleh aquos humor dan keluar sehingga tampak sebagai suatu aliran .
Sedikit cerita tentang queous di ruang anterior adalah cairan bening pada bola mata bagian depan atau bilik mata depan ( Camera Okuli Anterior atau COA ) dan cairan air mata ini yang menutupi konjungtiva dan membahasi lapisan permukaan mata.

Lapisan kornea juga merupakan lapisan transparan dan bila terjadi kebocoran pada mata akibat cidera, atau penyakit maka cairan Aquos humor ini mengalir keluar dari mata. Namun karena cornea itu tranparan maka, kebocoran air ini hilang dan lokasi kebocoran tidak dapat diidentifikasi. Jadi, jika pewarna disuntikkan atau dibasahkan di permukaan cornea maka tempat kebocoran dapat diidentifikasi dengan melihat pewarna yang bocor keluar dari luka.
Pada seidel test digunakan pewarna Fluoresenin 10% (Resorcinolphthalein) yang merupakan senyawa organik sintetis tersedia warna oranye gelap atau merah. Fluorescein yang terkonsentrasi akan terdilusi oleh kebocoran yang akan mengalir ke bawah karena gravitasi dan pada pemeriksaan slit lamp dengan menggunakan cahaya biru kobalt, kebocoran ini akan tampak hijau terang.

Bagai mana teknik melakukan test seidel ini :

  1. Pertama – tama siapkan lampu dan Jelaskan prosedur kepada pasien
  2. Tetes mata dengan anestetik topikal setelah itu dengan hati-hati tempelkan strip pewarna Fluoresen yang sudah dibasahi ke konjungtiva superior.
    (Dalam air mata kornea, pewarna biasanya dapat diterapkan pada konjungtiva superior, memungkinkan pewarna mengalir di atas kornea. Keuntungan lain menggunakan fluorescein ke konjungtiva superior di atas lesi yang dicurigai adalah fenomena Bell dimana mata berputar ke atas dan ke luar.)
  3. Minta pasien untuk berkedip sekali dan Visualisasikan situs yang terluka di bawah sumber cahaya biru kobalt dengan menggunakan slit lamp.
  4. Perkirakan laju dan volume cairan yang keluar dari luka.
  5. Oleskan tetes mata antibiotik topikal, test selesai .

Seperti yang dijelaskan Indikasi dilakukan seidel test ini adalah

  1. Untuk mengidentifikasi lokasi kebocoran okular setelah cedera bola dunia
  2. Untuk mengidentifikasi apakah air mata kornea disegel atau tidak
  3. Untuk mengevaluasi konfigurasi sayatan katarak tanpa jahitan yang berbeda
  4. Pasca operasi untuk memastikan penutupan luka yang tepat setelah penyaringan bleb.

Sedangkan Kontraindikasi dilakukan seidel test ini adalah

  1. Pecah Globe yang Jelas
  2. Perforasi kornea
  3. Laserasi mata tebal penuh
  4. Hipersensitivitas terhadap Fluorescein
  5. nterpretasi (tes seidel positif)
  6. Pewarna fluoresenin diencerkan oleh cairan berair
  7. Pekat berwarna hijau terang mengelilingi situs bocor (di atas dan ke samping)
  8. Tindakan pencegahan
  9. Jangan berikan tekanan pada mata saat tes (risiko ekstrusi jaringan mata)

Dalam perkebangannya seidel test juga digunakan tidak untuk test kebocoran pada kasus trauma pada mata atau kebocoran pada cornea akibat penyakit mata tapi juga digunakan untuk test kebocoran pada pembedahan dan yang sering dilakukan pada saat selesai tindakan operasi katarak tanpa jahitan ( fakoemulsifikasi ) hanya saja penggunaan Fluoresenin 10% digantikan dengan bethadine yang di oleskan dibibir luka incici pada cornea dan dilihat di bawah mikcroscope untuk melihat adanya kebocoran dari aliran cairan dalam bilik mata depan .
Sekian cerita kita tentang seidel test ya , semoga bermanfaat menambah wawasan kita tentang dunia kesehatan mata

Referensi
Cain W, Sinskey RM. Deteksi kebocoran ruang anterior dengan tes Seidel. Ophthalmology Arch. 1981 November; 99 (11): 2013.

Tinggalkan Balasan