Mengenal Penyakit Ablasio Retina Sebagai Peyebab Kebutaan

Retinal Detachment atau Ablasio Retina

Merupakan salah satu kelainan retina yang dapat menimbulkan kebutaan apabila tidak ditangani segera. Retinal detachment menandakan pemisahan retina sensorik dari epitel pigmen retina dibawahnya, ablasio retina diklasifikasikan atas.

1. Retinal detachment regmatogen.

Retinal detachment regmatogen merupakan bentuk yang paling banyak dijumpai, karakteristiknya adalah pelepasan total (full thickness) suatu regma di retina sensorik, traksi korpus vitreus dan mengalirnya korpus vitreus cair melalui defek retina sensorik ke dalam ruang subretina. Sebanyak 90% sampai 97% dijumpai adanya retinal break dan sebagian besar pasien mengeluh adanya photopsia dan floaters. Tekanan bola mata cenderung rendah dibandingkan dengan mata sebelah. Tanda khas yang dijumpai yakni shafer sign (tobacco dust). Manajemen rhegmatogenous retinal detachment dapat dilakukan dengan cara tehnik bakel sclera yang bertujuan menutup robekan retina dengan cara indentasi sclera maka traksi vitreus berkurang dan mengurangi masukan vitreus cair melalui robekan retina ke ruang subretina. Sehingga daerah robekan retina menempel kembali dengan EPR. Pada tehnik pneumatic retinopexy, gelembung udara diinjeksikan ke dalam rongga vitreus yang berfungsi sebagai temponade terhadap robekan retina sehingga retina melekat kembali. Kedua tehnik diatas dapat menghasilkan perlekatan retina yang kuat dengan melakukan cryotheraphy, laser atau diathermy dan kadang perlu dilakukan vitrektomi. Kegagalan tehnik diatas sering disebabkan oleh adanya Proliferative Vitreo Retinopathy (PVR) dimana terjadi proliprasi membran periretina yang menimbulkan traksi kuat yang menyulitkan penempelan retina atau timbulnya retinal break yang baru dan juga bias menimbulkan ablasio retina traksional.

2. Retinal detachment traksional

Retinal Detachment traksional adalah bentuk kedua tersering. Hal ini terutama disebabkan oleh Retinopati diabetik proliferatif, vitreo retinopati proliferatif dan trauma mata dimana membran yang timbul pada vitreus menarik neurosensori retina dari RPE. Gambaran karakteristiknya yaitu permukaan retina yang licin dan imobil. Terapi dari traksional retinal detachment merupakan kombinasi antara vitrektomi dan tehnik bakel sklera.

3. Retinal detachment eksudatif

Retinal Detachment Eksudatif,ini disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah retina atau RPE. Sehingga memungkinkan penimbunan cairan dibawah retina sensorik. Hal ini sering disebabkan oleh infeksi, neoplasma. Adanya sifting fluid merupakan karakteristik dari eksudatif retinal detachment karena cairan subretina dipengaruhi oleh gaya grafitasi maka dimana cairan ini menumpuk disana terjadi ablasio retina. Ablasio retina eksudatif ini dapat mengalami regresi spontan. Setelah cairan subretina mengalami resorbsi, oleh karena itu terapi ablasio ini diarahkan terhadap penyebabnya sehingga jarang dilakukan operasi. Selain faktor intrinsik seperti usia, ras, jenis kelamin dan faktor genetik, ada juga faktor ekstrinsik yang berpengaruh antara lain pendidikan, dan pekerjaan yang berdampak langsung pada status sosial-ekonomi.

DIAGNOSIS

Ablasio retina ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan oftalmologi dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis Gejala umum pada ablasio retina yang sering dikeluhkan penderita adalah:

  1. Floaters (terlihatnya benda melayang layang) yang terjadi karena adanya kekeruhan divitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang lepas atau degenerasi vitreous.
  2. Fotopsi (kilatan cahaya), tanpa adanya sumber cahaya di sekitarnya, yang umumnya terjadisewaktu mata digerakkan dalam keremangan cahaya atau dalam keadaan gelap.
  3. Penurunan tajam penglihatan, penderita mengeluh penglihatannya sebagian seperti tertutup tirai yang semakin lama semakian luas. Pada keadaan yang telah lanjut, dapat terjadi penurunan tajam penglihatan yang berat. Pada ablasio regmatogenosa, pada tahap awal masih relatif terlokalisir, tetapi jika haltersebut tidak diperhatikan oleh penderita maka akan berkembang menjadi lebih berat jikaberlangsung sedikit sedikit demi sedikit menuju ke arah makula. Keadaan ini juga tidak menimbulkan rasa sakit. Kehilangan penglihatan dapat tiba-tiba terjadi ketika kerusakannyasudah parah. Pasien biasanya mengeluhkan adanya awan gelap atau tirai di depan mata.
  4. Selain itu perlu dianamnesa adanya faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya ablasio retina seperti adanya riwayat trauma, riwayat pembedahan sebelumnya seperti ekstraksi katarak, pengangkatan corpus alienum intraokuler, riwayat penyakit mata sebelumnya (uveitis,perdarahan vitreus, ambliopia, glaukoma, dan retinopati diabetik). Riwayat keluarga dengan sakit mata yang sama serta riwayat penyakit yang berhubungan dengan ablasio retina (diabetesmellitus, tumor, sickle cell leukimia, eklamsia, dan prematuritas.

Pemeriksaan Oftalmologi

Adapun tanda – tanda yang dapat ditemukan pada keadaan ini antara lain:

  1. Pemeriksaan visus. Dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat terlibatnya makulalutea atau kekeruhan media refrakta atau badan kaca yang menghambat sinar masuk. Tajampenglihatan akan sangat terganggu bila makula lutea ikut terangkat.
  2. Tekanan intraokuler biasanya sedikit lebih tinggi, normal, atau rendah.
    Pemeriksaan funduskopi. Merupakan salah satu cara terbaik untuk mendiagnosa ablasioretina dengan menggunakan oftalmoskop inderek binokuler. Pada pemeriksaan ini retinayang mengalami ablasio tampak sebagai membran abu- abu merah muda yang menutupigambaran vaskuler koroid. Jika terdapat akumulasi cairan pada ruang subretina, didapatkanpergerakan undulasi retina ketika mata bergerak. Pembuluh darah retina yang terlepas daridasarnya berwarna gelap, berkelok- kelok dan membengkok di tepi ablasio. Pada retinayang terjadi ablasio telihat lipatan-lipatan halus. Satu robekan pada retina terlihat agak merah muda karena terdapat pembuluh koroid dibawahnya.
  3. Electroretinography (ERG) adalah dibawah normal atau tidak ada.
  4. Ultrasonography mengkonfirmasikan diagnosis

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah pembedahan. Pada pembedahan ablasio retinadapat dilakukan dengan cara :

1. Scleral buckle

Metode ini paling banyak digunakan pada ablasio retina rematogenosa terutama tanpadisertai komplikasi lainnya. Tujuan skleral buckling adalah untuk melepaskan tarikanvitreous pada robekan retina, mengubah arus cairan intraokuler, dan melekatkan kembaliretina ke epitel pigmen retina. Prosedur meliputi lokalisasi posisi robekan retina,menangani robekan dengan cryoprobe, dan selanjutnya dengan skleral buckle (sabuk).Sabuk ini biasanya terbuat dari spons silikon atau silikon padat. Ukuran dan bentuk sabuk yang digunakan tergantung posisi lokasi dan jumlah robekan retina. Pertama tama dilakukan cryoprobe atau laser untuk memperkuat perlengketan antara retina sekitar dan epitel pigmen retina. Sabuk dijahit mengelilingi sklera dengan jahitan tipe matras padasklera, sehingga terjadi tekanan pada robekan retina sehingga terjadi penutupan padarobekan tersebut. Penutupan retina ini akan menyebabkan cairan subretinal menghilangsecara spontan dalam waktu 1-2 hari. Komplikasi dari skleral buckling meliputi myopia,iskemia okuler anterior, diplopia, ptosis, ulitis sel orbital, perdarahan subretina, inkarserasiretina.

2. Retinopeksi pneumatik

Retinopati pneumatik merupakan metode yang sering digunakan pada ablasio retinaregmatogenosa terutama jika terdapat robekan tunggal pada bagian superior retina.Tujuandari retinopeksi pneumatik adalah untuk menutup kerusakan pada retina dengan gelembunggas intraokular dalam jangka waktu yang cukup lama hingga cairan subretina direabsorbsi.Teknik pelaksanaan prosedur ini adalah dengan menyuntikkan gelembung gas (SF6 atauC3F8) ke dalam rongga vitreus. Gelembung gas ini akan menutupi robekan retina danmencegah pasase cairan lebih lanjut melalui robekan. Jika robekan dapat ditutupi olehgelembung gas, cairan subretinal biasanya akan hilang dalam 1-2 hari. Robekan retinadapat juga dilekatkan dengan kriopeksi atau laser sebelum gelembung disuntikkan.Parasentesis ruang anterior bisanya dibutuhkan untuk menurunkan tekanan intraokuleryang dihasilkan oleh injeksi gas. Pasien harus mempertahankan posisi kepala tertentuselama beberapa hari untuk meyakinkan gelembung terus menutupi robekan retina. Untuk pasien ablasio retina dengan durasi < 14 hari yang melibatkan makula, prosedur retinopeksitraumatic lebih baik daripada skleral buckling. Komplikasi dari prosedur ini meliputimigrasi gas ke subretina, migrasi gas ke ruang anterior, endoftalmitis, katarak, dan ablasioretina rekurens dengan terbentuknya kerusakan retina yang baru.

3. Vitrektomi

Merupakan cara yang paling banyak digunakan pada ablasio akibat diabetes, dan juga padaablasio regmatogenosa yang disertai traksi vitreus atau perdarahan vitreus. Carapelaksanaannya yaitu dengan membuat insisi kecil pada dinding bola mata kemudianmemasukkan instrumen pada ruang vitreous melalui pars plana. Setelah itu dilakukanvitrektomi dengan vitreus cutre untuk menghilangkan berkas badan kaca (vitreuos stands),membran, dan perlengketan perlengketan. Teknik dan instrumen yang digunakantergantung tipe dan penyebab ablasio. Lebih dari 90% lepasnya retina dapat direkatkankembali dengan teknik-teknik bedah mata modern, meskipun kadang- kadang diperlukanlebih dari satu kali operasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hardy RA, Shetlar DJ. Retina. In: Riordan P, Whitcher JP. editors. Vaughan and Asbury’s General Ophthalmology th ed. New York: McGraw-Hill.2004. p. 190, 200-201.
2. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Masa edisi ketiga.2010. Fakultas Kedokteran UniversitasIndonesia: Jakarta. p.1-10, 183-6.
3. Khurana AK. Diseases of The Retina.In: Comprehensive Ophthalmology. 4th edition. New Age International Limited Publisher: India. 2007. p. 250-2, 275-9.
4. Carneiro J, Junqueira LC. Histologi Dasar Teks & Atlas . Edisi 10. Jakarta: EGC. 2007.Hal. 470-475.
5. American Academy of Ophthalmology. Retina and Vitreous: Section 12 2011-2012. Singapore: LEO. 2011. p. 360-4

Tinggalkan Balasan